Wednesday, February 29, 2012

Menjadi Bloger Eksis dengan Teknik Menulis Kuantum


Eksistensi menulis bisa dibangun dengan menjaga konsistensi membikin karya di dunia maya. Ada banyak pengelola blog keroyokan yang menyediakan ruang untuk kita menulis. Kita sendiri pun bisa mengelola blog sebagai rumah menyimpan artikel.

Buat saya, dengan kemudahan berinternet sekarang, menulis itu adalah proses yang bisa dilakoni. Setiap hari bahkan. Apa saja yang ada di dalam kepala berupa ide, bisa langsung dituliskan. Ini berbanding lurus dengan keberadaan media internet yang memang mengutamakan kecepatan. Yakinlah, ada banyak orang, termasuk bloger, yang membutuhkan asupan bacaan secara cepat. Intinya, begitu ada kejadian, lima menit kemudian artikel tentang itu sudah ditunggu orang. Sama saja dengan seorang bloger yang lihai menulis analisis dari berita. Ia ingin berita yang berseliweran di laman daring selalu up to date sehingga tulisan yang mau ia bikin juga punya kebaruan.

Ngeblog memang tak sekadar menulis. Ada yang bilang kita juga patut memperhatikan soal SEO supaya saat dilacak orang di mesin pencari Google, tulisan kita nangkring di halaman pertama. Juga ada yang omong kalau kita memperhatikan spesialisasi dalam menghasilkan tulisan. Dan beberapa item yang disebut ini akan didedahkan pada senarai berikutnya ini.

Benang merahnya ialah eksis di dunia maya memang mesti punya wujud. Dan itu difasilitasi lewat media tulisan yang disimpan dalam blog. Dari aktivitas menulis itulah kita bisa menjaga eksistensi. Masalahnya ialah apa tujuan kita menjaga eksistensi di dunia maya dengan aktif ngeblog? Tujuannya ada dua, buat kita dan buat pembaca.

Buat diri sendiri, eksis menulis di blog akan meningkatkan kapasitas intelektual. Terlepas dari konten apa yang kita tulis: berita, artikel, resensi, puisi, cerpen, cerbung.
Dengan menjaga kontinuitas menulis, sama artinya dengan membangun kompetensi kepenulisan. Semakin sering menulis, karya yang kita hasilkan semakin bagus. Tulisan akan semakin halus dan perspektifnya meluas. Ketajaman analisis kita juga semakin baik. Intinya, rajin menulis bakal membuat kita menjadi penulis yang baik.

Di sisi lain, buat pembaca, keaktifan kita menulis membuat mereka mendapatkan informasi baru. Apalagi kalau kita sudah menjadi bloger yang memfokuskan tulisan pada satu atau dua tema besar. Misalnya soal tema penulisan atau multimedia. Ini akan membangun basis pembaca di media internet. Blog pribadi kita akan semakin banyak dikunjungi. Atau kalau kita bergabung di blog keroyokan, tulisan kita juga semakin disukai dan diapresiasi.

Nah, karena menulis atau ngeblog di internet ini bersicepat dengan waktu, kita pun kudu memperbaiki teknik menulisnya. Mungkin kalau waktu awal kita agak lamban dalam menulis, semakin hari mesti semakin cepat. Beberapa orang merumuskannya dengan quantum writing. Dan untuk itu saya seiya sekata.

Saya menyederhanakannya dengan diksi: menulis kuantum. Beberapa penerbit buku pernah memublikasikan naskah perihal ini. Salah satunya editor Hernowo dalam buku Quantum Writing. Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis. Penerbitnya MLC. Ada banyak rangkuman buku dalam buku tersebut. Editor meramunya dengan meringkas bahasan dari beberapa buku lain. Mungkin lantaran demikian, agak sulit memahami dengan utuh konsep quantum writing itu. Akan tetapi, buku kan tak pernah salah. Ia adalah bahan belajar. Dari konten buku itu kita bisa mendapatkan banyak hal. Termasuk barangkali menggugat beberapa bagian dari buku itu.

Walau begitu, skema itu buku tersebut saya sepakati sehingga menjadikan itu sebagai dasar menulis artikel ini. Buat saya, menulis kuantum itu relevan dengan dunia bloger. Lalu, apa saja item dalam konsep menulis kuantum ini?

Pertama, jadikan gadget sebagai "senjata" utama.
Gadget berupa netbook atau iPad, atau sekurang-kurangnya ponsel, bisa menjadi alat utama kita dalam menulis. Mengapa kita perlu gadget yang sifatnya mobile? Sebab, kita menginginkan, di mana saja tempat, kita bisa ngeblog: menulis dan memposting tulisan. Itu wujud eksistensi kita berinternet ria. Ya bisa saja mengandalkan komputer di rumah atau kantor. Selain secara tempat lebih nyaman, tampilan di layar monitor juga lebih jelas. Cuma, kita kan ingin, sebagai jurnalis warga, aktivitas reportase bisa dilakukan di mana saja. Dan akan lebih cepat jika gadget selalu menyertai. Filosofi kuantum itu ada di kecepatan. Tentu cepat dan saksama, bukan cepat yang sembrono. Semangatnya ada pada keinginan kita menghadirkan informasi dalam bentuk reportase dan artikel yang cepat dan berkualitas. Mungkin kalau kita bekerja kantoran sejak pagi sampai sore, mudah ngeblog dengan fasilitas komputer kerja kita. Tetapi, keberadaan gadget pasti lebih memungkinkan kita menulis dengan kuantum begitu ide datang. Pengalaman saya, memang ngeblog dengan sarana gadget ini lebih enak. Ide yang datang bisa segera dirampungkan dengan tulisan. Paling bantuan komputer soal editing karena layar di BlackBerry misalnya, kecil. Akan tetapi, 90 persen pekerjaan sebetulnya telah selesai. Tinggal poles saja sedikit. Jadi, intisarinya, menulis kuantum akan mudah dilakukan jika gadget selalu siaga. Tentu dengan pulsa yang cukup plus area atau coverage yang memadai. Termasuk menggunakan seluler Axis.

Kedua, awali dengan membaca.
Ngeblog itu mesti diawali dengan membaca. Kita mau memposting apa kalau tidak membaca. Mengawali hari dengan menulis kudu didahului dengan membaca. Karena dengan membaca kita bisa mengetahui kabar paling mutakhir atau artikel menarik lainnya. Dari sanalah kita bisa menulis. Kerja pertama penulis atau bloger itu ya membaca. Apalagi dengan gadget di tangan, aktivitas membaca bisa dilakukan juga secara kuantum. Cukup menjadi follower banyak kantor berita, kita bisa mendapatkan informasi berlimpah setiap hari. Dari situlah kita bisa mendapat bahan menulis.
Dan jangan lupakan juga buku. Bagaimanapun buku adalah sumber ilmu. Apalagi secara umum setiap buku mempunya tema tersendiri. Ini juga bisa membantu kita mendapatkan input untuk menulis.
Menulis kuantum sangat memerlukan asupan yang bermutu. Dan cara pandang kita terhadap bacaan juga memengaruhi entri data ke dalam pikiran kita. Dari situlah ide bisa digali dan ngeblog bisa lancar dilakoni.

Ketiga, menulis sebagai daily activity.
Jika ingin eksis dalam ngeblog, menulis itu mesti setiap hari. Sebab, kontinuitas akan memengaruhi perjalanan kita dalam blogging. Seorang bloger yang malas menulis, pasti lambat laun ditinggalkan pembaca. Ibarat koran yang sekali terbit kemudian tersendat-sendat, juga akan ditinggalkan pembaca. Kalau ini sudah menjadi aktivitas rutin, orang pun akan memahami bahwa kita memang bloger sejati. Kalau kita ingin eksis dan dikenal sebagai bloger yang aktif, menulis setiap hari harus dijadikan perilaku dan budaya. Mesti ada rasa "bersalah" jika dalam sehari tak memposting satu pun artikel.
Menulis sehari adalah kuantum atau lompatan jika kita ingin dikenal sebagai bloger yang baik. Memang awalnya sulit, tetapi kita mesti kuantum, melompat. Dari yang malas menulis sampai bisa menulis setiap hari. Memang membangun habit ini sulit karena ada banyak hambatan. Rasa malas yang utama. Tetapi, dengan memaksakan menulis setiap hari, menulis apa saja, kita akan melompat. Melompat dari kuadran penulis yang lamban menjadi penulis yang cepat. Melompat dari kotak penulis yang miskin ide ke penulis dengan segudang gagasan. Ini menulis kuantum namanya. Memaksakan diri ujar orang-orang dulu memang tidak baik. Tapi dalam konteks tertentu, menulis misalnya, kita perlu belajar memaksakan. Sebab, jika tak dipaksakan, kita tak bisa menulis dengan baik. Mungkin awalnya dipaksa, tetapi lambat laun akan terbiasa. Terlebih jika kita sudah memaknai menulis atau ngeblog adalah serupa ibadah. Rasanya ada yang hilang kalau belum memposting tulisan. Ibarat makan, yang kita selalu merasa lapar jika belum ditunaikan.
Jika ingin eksis, menulislah setiap hari. Melompatlah. Kuantum!

Keempat, membangun personal branding.
Ini soal merek. Dan ini bisa jadi perlu waktu. Mungkin setahun, bisa juga lebih. Personal branding ini membangun pencitraan. Kita ingin dikenal sebagai apa di mata pembaca, bloger lainnya, atau masyarakat. Apa kekhasan tulisan kita dibanding penulis lain. Ujungnya, kita ingin dikenal sebagai penulis tema apa saat kita tiada. Ini yang disebut personal branding. Maka itu, kita mesti melompat. Kuantum. Dari penulis yang menyukai semua tema sampai ke pribadi yang spesialis dan ahli dalam bidang tertentu. Ini personal branding namanya.
Maka itu, untuk menentukan konten ngeblog apa, kita mesti melihat basis terkuat kita di mana. Tema apa yang paling kita sukai dan kuasai. Kalau sudah ketemu, di sanalah kita membangun profesionalitas. Barangkali khusus artikel politik, budaya, sastra, hiburan, ekonomi, penulisan, jurnalisme, atau keuangan. Kita bebas memilih. Sesuai dengan basis terkuat yang kita miliki.
"Memaksakan" menjadi orang yang punya personal branding butuh konsentrasi sebab kita diminta untuk fokus. Fokus pada satu atau dua tema yang benar-benar menjadi kekuatan utama tulisan kita.

Ini berguna untuk menjadikan kita bloger yang ahli. Ini juga bermanfaat jika ada peluang bisnis, bekerja dan sebagainya yang berkenaan dengan personal branding itu.
Dan jelas, menulis kuantum di sini dibutuhkan. Kita mesti melompat dari kuadran penulis "biasa" menjadi penulis spesialis. Kita juga melompat dari kesukaan terhadap semua macam tema kepada satu ihwal tetapi dengan banyak varian.
Keterpercayaan orang akan dipengaruhi oleh seberapa profesional kita. Orang akan percaya berobat kepada dokter ahli saraf saat keluhannya di titik itu. Juga demikian saat kita sakit gigi, dokter gigi yang dicari.

Sama halnya dengan menjaga eksistensi di dunia maya. Orang yang sudah tahu kita "pakar" dalam tulisan soal editing, pasti akan menyambangi blog kita saat mereka mencari soal penyuntingan. Tidak ke bloger lain. Karena kita sudah dipercaya, blog kita pun ramai dikunjungi dan makin banyak orang mendapat manfaat dari situ.

Cuma, membangun ini jelas butuh perjuangan. Dokter spesialis juga mendapatkan pelajaran seorang dokter umum sebelum mengambil spesialis. Seorang bloger juga menyukai banyak tema sampai kemudian menemukan konten yang paling dikuasai. So, inilah gunanya menulis kuantum. Mempercepat cara menulis, memperbanyak ide dengan kerap membaca, memaksakan diri menulis saban hari, dan memformat konten tulisan andalan.

Jadi, siap eksis di internet?